NABIRE, ARAHWARTA.ID – Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Nabire, Papua Tengah, mulai berdampak pada aktivitas masyarakat dan konektivitas transportasi udara. Jarak pandang yang menurun akibat pekatnya asap membuat salah satu penerbangan menuju Nabire harus mengalihkan pendaratan ke Bandara Frans Kaisiepo, Biak.
Kondisi tersebut terjadi pada Senin (14/9/2026) pagi ketika jarak pandang di sekitar Bandara Douw Aturure Nabire hanya mencapai sekitar satu kilometer. Padahal, untuk mendukung keselamatan penerbangan, jarak pandang yang dibutuhkan berada di kisaran lima kilometer.
Kepala Seksi Teknik, Operasi, Keamanan, dan Pelayanan Darurat Bandara Douw Aturure Nabire, Allrido Simandjuntak, mengatakan keterbatasan jarak pandang menjadi alasan pengalihan pendaratan pesawat.
Pesawat Sriwijaya Air yang dijadwalkan tiba dari Makassar sekitar pukul 07.45 WIT kemudian dialihkan ke Biak sebelum kembali melanjutkan penerbangan ke Nabire setelah kondisi memungkinkan. Pesawat tersebut akhirnya mendarat sekitar pukul 09.20 WIT.
Kondisi jarak pandang selanjutnya berangsur membaik hingga mencapai sekitar lima kilometer sehingga operasional penerbangan di Bandara Douw Aturure kembali berjalan normal.
Namun, persoalan kabut asap tidak berhenti pada gangguan penerbangan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire mencatat kualitas udara di wilayah tersebut berada pada kategori sangat tidak sehat.
Hasil pemantauan DLH pada Senin (14/9) pukul 10.00 WIT menunjukkan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 258. Kepala DLH Nabire, Arfan Natan Palumpun, menyebut data tersebut diperoleh secara real time melalui alat pemantau kualitas udara milik DLH.
Menurut DLH, kondisi tersebut meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat, terutama warga yang melakukan aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Masyarakat pun diimbau menggunakan masker ketika berada di luar rumah serta menghindari aktivitas yang dapat memperburuk pencemaran udara, termasuk pembakaran lahan dan sampah secara terbuka.
Hotspot Meningkat Tajam
Persoalan kabut asap di Nabire juga terjadi di tengah peningkatan titik panas. Data BMKG menunjukkan jumlah hotspot di Kabupaten Nabire meningkat dari 12 titik pada 10 September menjadi 268 titik pada 13 September 2026.
Peningkatan tersebut beriringan dengan munculnya kabut asap yang mulai menyelimuti Nabire sejak Minggu (13/9) sore hingga Senin pagi.
Dampak kebakaran lahan juga tercatat pada sektor perkebunan. Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah melaporkan terdapat 23 kejadian karhutla di sekitar kawasan perkebunan kelapa sawit Nabire sejak 18 Juli 2026 dengan total lahan terdampak sekitar 67,95 hektare. Sebanyak 1.052 tanaman sawit muda dilaporkan mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebakaran lahan memiliki dampak yang lebih luas, mulai dari kualitas udara, kesehatan masyarakat, lingkungan, hingga terganggunya konektivitas transportasi.
DLH Nabire meminta masyarakat turut mengambil bagian dalam pencegahan dengan tidak melakukan pembakaran hutan maupun sampah secara sembarangan.
Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan hingga kualitas udara kembali membaik.















