AMBON, ARAHWARTA.ID— Beredarnya poster yang memuat tudingan mengenai “pencarian kader kabur” serta dugaan persoalan utang dalam pelaksanaan Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku mendapat perhatian dari kader HMI Cabang Ambon, Hairul Rumata.
Hairul meminta seluruh kader dan pihak terkait tidak langsung mempercayai maupun menyebarluaskan informasi tersebut sebelum dilakukan klarifikasi kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan kegiatan.
“Kita sebagai kader HMI harus mampu membedakan antara kritik, informasi, dan tudingan. Jangan sampai informasi yang belum terverifikasi justru menjadi konsumsi publik dan kemudian merusak nama baik kader maupun organisasi,” ujar Hairul.
Menurutnya, dinamika dalam kegiatan maupun organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, setiap persoalan semestinya diselesaikan melalui tabayun, komunikasi, serta mekanisme organisasi.
Kritik Harus Berdasarkan Data
Hairul menilai kritik terhadap kepanitiaan merupakan bagian penting dalam evaluasi organisasi. Namun, kritik harus disampaikan secara objektif, berdasarkan data, dan tetap memberikan ruang kepada pihak yang dituding untuk memberikan klarifikasi.
“Kalau memang ada persoalan dalam kepanitiaan, mari kita buka secara terang. Kalau ada data, sampaikan datanya. Kalau ada masalah keuangan, periksa dan pertanggungjawabkan secara terbuka. Tetapi jangan kemudian persoalan yang belum jelas dibentuk menjadi tudingan yang seolah-olah sudah menjadi kebenaran,” tegasnya.
Hairul juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya dari Ali Alkatiri selaku Ketua Panitia Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku, muncul pandangan bahwa tudingan yang beredar terhadap dirinya berkaitan dengan kekecewaan sebagian pihak di lingkungan BADKO HMI Maluku yang disebut menginginkan ruang dan peran dalam kepanitiaan.
Menurut keterangan yang diterima Hairul dari Ali Alkatiri, penunjukan sebagai Ketua Panitia disebut tidak terlepas dari proses dan jenjang pengkaderan yang telah ditempuhnya di HMI.
Hairul menilai perbedaan kepentingan maupun peran dalam organisasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk membangun narasi yang berpotensi merugikan pribadi maupun organisasi.
“Kalau ada perbedaan kepentingan atau ada kader yang merasa memiliki kapasitas yang sama, mari kita bicarakan secara terbuka dan berdasarkan aturan organisasi. Jangan sampai perbedaan peran kemudian melahirkan tudingan dan opini yang justru merusak persatuan kader,” katanya.
Mengaku Menyaksikan Langsung Pelaksanaan Kegiatan
Hairul mengatakan pandangannya terhadap pelaksanaan Advance Training tidak hanya didasarkan pada informasi yang beredar. Ia mengaku menyaksikan langsung kegiatan tersebut dan melihat rangkaian kegiatan berjalan.
“Kami menyaksikan langsung bagaimana kegiatan Advance Training Tingkat Nasional BADKO HMI Maluku berjalan. Ada proses, ada panitia yang bekerja, ada peserta, ada pemateri nasional, dan seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan. Karena itu, jangan sampai kerja keras banyak orang kemudian ditutupi oleh narasi yang belum terverifikasi,” ujar Hairul.
Ia menyebut kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dan tokoh nasional, di antaranya Doli Kurnia, anggota DPR RI; Betty Idroos dari KPU RI; Taofik Dayanto; Sikka Songge; Faisal Satalohi; serta sejumlah pemateri lainnya.
Menurut Hairul, kehadiran para pemateri tersebut menunjukkan bahwa kegiatan memiliki agenda pengkaderan dan penguatan kapasitas intelektual kader.
Minta Persoalan Diselesaikan Melalui Mekanisme Organisasi
Hairul mengajak seluruh kader HMI agar tidak ikut menyebarluaskan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Menurutnya, kritik tetap diperlukan dalam organisasi, tetapi harus mengedepankan fakta, data, etika, dan kepentingan organisasi.
“HMI adalah rumah besar kader. Perbedaan pandangan adalah hal biasa, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita saling menjatuhkan. Kalau ada yang harus dikritik, kritiklah dengan data. Kalau ada yang harus dievaluasi, evaluasilah secara terbuka. Jangan jadikan media sosial sebagai ruang untuk menghakimi sebelum fakta diperiksa,” katanya.
Ia juga meminta seluruh pihak memberikan kesempatan kepada panitia untuk menyelesaikan proses pertanggungjawaban kegiatan sesuai mekanisme yang berlaku.
Hairul menilai persoalan kepanitiaan tidak seharusnya menghilangkan substansi utama Advance Training, yakni proses pengkaderan, peningkatan kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta kontribusi kader bagi organisasi dan masyarakat.
“Jangan biarkan informasi yang belum teruji kebenarannya mengalahkan fakta. Kita boleh berbeda dalam pandangan, tetapi kita harus tetap satu dalam menjaga marwah organisasi. Kalau ada persoalan, selesaikan dengan mekanisme organisasi. Jangan membangun opini sebelum kebenaran diketahui,” ujarnya.
Hairul berharap polemik yang berkembang tidak mengganggu agenda pengkaderan HMI di Maluku dan tidak menjadi alasan yang memperlebar perbedaan di antara kader.
“Kita boleh berbeda posisi, berbeda pandangan, bahkan berbeda kepentingan. Tetapi jangan pernah berbeda dalam menjaga marwah HMI. Kritik dengan data, bicara dengan fakta, dan selesaikan persoalan dengan tabayun,” pungkasnya.















