NABIRE, ARAHWARTA.ID – Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa Papua Tengah menggelar aksi damai dan mimbar bebas di kawasan Pasar Karang Tumaritis, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Kamis (5/6/2025). Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan 18 tuntutan kepada pemerintah terkait persoalan kemanusiaan, lingkungan hidup, hak masyarakat adat, hingga investasi di Tanah Papua.
Aksi yang diikuti puluhan mahasiswa dan pelajar itu berlangsung sejak pagi hari dengan membentangkan spanduk, poster, serta menyampaikan orasi secara bergantian di hadapan masyarakat yang melintas di sekitar lokasi kegiatan.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan saat aksi, peserta menyoroti kondisi kemanusiaan yang terjadi di sejumlah wilayah Papua, seperti Yahukimo, Intan Jaya, Nduga, Pegunungan Bintang, Maybrat, dan Boven Digul. Mereka menilai konflik yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat sipil.
Menurut mereka, situasi tersebut menyebabkan munculnya pengungsi internal dalam jumlah besar, trauma psikologis yang berkepanjangan bagi masyarakat, terganggunya aktivitas pendidikan anak-anak, hingga kesulitan masyarakat dalam menjalankan aktivitas berkebun dan mencari nafkah sehari-hari.
Selain itu, mereka juga menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi keamanan warga sipil yang berada di wilayah-wilayah terdampak konflik. Oleh karena itu, pemerintah diminta mengambil langkah-langkah yang mengedepankan pendekatan kemanusiaan dalam penyelesaian berbagai persoalan di Papua.
Massa aksi juga menyoroti keberadaan sejumlah investasi dan proyek pembangunan yang dinilai perlu dievaluasi agar tidak merugikan masyarakat adat maupun lingkungan hidup. Mereka meminta setiap kebijakan pembangunan di Papua tetap memperhatikan hak-hak masyarakat adat dan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Dalam aksi tersebut, Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa Papua Tengah menyampaikan 18 poin tuntutan yang mencakup penghentian kekerasan terhadap warga sipil, perlindungan masyarakat adat, penghentian perusakan lingkungan, evaluasi sejumlah investasi dan proyek pembangunan, serta pembukaan ruang dialog untuk penyelesaian konflik di Papua.
Koordinator aksi mengatakan bahwa penyampaian aspirasi tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa dan pelajar terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat Papua. Mereka berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat mendengar dan menindaklanjuti berbagai aspirasi yang disampaikan.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman dan kondusif dengan pengamanan dari aparat keamanan. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, massa aksi membubarkan diri secara tertib.
Melalui aksi damai tersebut, Solidaritas Pelajar dan Mahasiswa Papua Tengah berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan perhatian serius terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi di Papua demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman, damai, adil, dan sejahtera.















