Scroll untuk baca artikel
OPINIPAPUA

Pemerhati Sosial Mimika Meminta Fokus Pada Solusi, Bukan Saling Menyalahkan: Persoalan yang Menimpa NAKES di Arwanop

×

Pemerhati Sosial Mimika Meminta Fokus Pada Solusi, Bukan Saling Menyalahkan: Persoalan yang Menimpa NAKES di Arwanop

Sebarkan artikel ini

MIMIKA, ARAHWARTA.ID – Persoalan yang menimpa sejumlah tenaga kesehatan (nakes) di Arwanop belakangan ini menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai perdebatan di media sosial. Di tengah silang pendapat mengenai siapa yang harus bertanggung jawab, Pemerhati Isu Sosial Mimika, Muhammad Amin, mengajak seluruh pihak untuk lebih fokus pada perbaikan sistem agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Menurut Amin, pada awal Mei 2026 sejumlah tenaga kesehatan dikirim ke Arwanop untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan bagi masyarakat di wilayah pedalaman yang selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan. Penugasan tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat kondisi geografis yang berat serta keterbatasan sarana pendukung.

Dalam perjalanan tugasnya, tiga tenaga kesehatan dilaporkan terserang malaria. Persediaan obat mulai menipis, alat pemeriksaan malaria tidak tersedia, sementara akses transportasi untuk evakuasi belum dapat digunakan. Akibatnya, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 12 jam dengan berjalan kaki, melintasi sungai, gunung, dan hutan demi mendapatkan pertolongan.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Mimika menyampaikan bahwa tidak pernah menerima informasi maupun permintaan penjemputan dari tenaga kesehatan tersebut. Senada dengan itu, Pemerintah Distrik Tembagapura juga menyatakan tidak menerima koordinasi sebelum perjalanan dilakukan.

Meski terdapat perbedaan keterangan dari berbagai pihak, Amin menegaskan bahwa dedikasi tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terpencil tetap harus mendapatkan penghargaan.

“Ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yakni para tenaga kesehatan tersebut tetap menjalankan tugasnya kemanusiaan di wilayah yang sangat sulit dijangkau demi melayani masyarakat. Dedikasi seperti ini patut dihargai dan diapresiasi,” ujar Amin.

Karena itu, menurutnya, perhatian publik sebaiknya diarahkan pada pencarian solusi, bukan sekadar mencari pihak yang harus disalahkan.

Pertama, perlu dibangun sistem komunikasi dan koordinasi yang jelas antara tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan, pemerintah distrik, serta pemerintah daerah, terutama dalam situasi darurat. Jalur komunikasi yang baik dinilai dapat mempercepat pengambilan keputusan saat kondisi mendesak terjadi.

Kedua, perlu adanya standar operasional prosedur (SOP) yang tegas terkait transportasi dan evakuasi tenaga kesehatan di daerah terpencil. SOP tersebut harus dipahami oleh seluruh pihak yang terlibat agar tidak terjadi kebingungan ketika situasi darurat muncul.

Ketiga, pemerintah perlu memastikan tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terisolasi mendapatkan dukungan, perlindungan, serta apresiasi yang layak. Mereka merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan yang bekerja dalam kondisi penuh tantangan.

“Masyarakat Arwanop membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik, sementara tenaga kesehatan juga membutuhkan sistem dukungan yang baik. Kedua hal ini harus berjalan beriringan demi kemanusiaan dan pelayanan publik yang lebih berkualitas,” katanya.

Lebih lanjut, Amin menilai bahwa persoalan yang telah mencuat ke ruang publik perlu disikapi melalui pendekatan dialogis. Ia menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Mimika membuka ruang komunikasi secara langsung dengan tenaga kesehatan yang mengalami peristiwa tersebut.

“Terkait problem ini yang telah mencuat ke publik dan berbagai perdebatan yang berseliweran di media sosial, sebaiknya Bupati Mimika memanggil tenaga kesehatan yang bersangkutan dan melakukan dialog. Saya kira langkah ini jauh lebih efektif untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan,” tuturnya.

Melalui dialog yang terbuka, menurut Amin, semua pihak dapat memperoleh gambaran utuh mengenai permasalahan yang terjadi. Dari sana, evaluasi dapat dilakukan secara objektif dan kebijakan perbaikan dapat disusun demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah terpencil.

Amin berharap seluruh pihak dapat menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi bersama untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan di daerah pedalaman.

“Sudah saatnya kita mengedepankan solusi, memperkuat koordinasi, dan memberikan dukungan kepada mereka yang mengabdikan diri demi kesehatan masyarakat. Dalam persoalan kemanusiaan, yang paling dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan, melainkan kesediaan untuk bersama-sama mencari jalan keluar,” pungkasnya.

Penulis : Muhammad Amin

Pemerhati Isu Sosial Mimika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *