Scroll untuk baca artikel
JakartaOPINI

Andi Sukmono ungkap Algoritma Menambang Perhatian, Emosi Kita Diaduk untuk Keuntungan Kapital

×

Andi Sukmono ungkap Algoritma Menambang Perhatian, Emosi Kita Diaduk untuk Keuntungan Kapital

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, – Setelah mengingatkan bahaya disinformasi dan deepfake, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Andi Sukmono kembali menguraikan cara kerja platform digital yang menurutnya kini membentuk cara berpikir, berinteraksi, hingga karakter ruang publik.

Hal itu disampaikan Andi dalam Talk Show Literasi Digital yang digelar Kohati PB HMI Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi, Senin (27/10/2026), di Sekretariat Kohati PB HMI, Jakarta.

Menurut Andi, mekanisme utama platform digital saat ini bekerja melalui tiga tahapan.

“Mekanismenya itu adalah ekstraksi data, kemudian modulasi perilaku, kemudian komodifikasi perhatian,” ujar Andi.

Perhatian, kata dia, bekerja dengan optimalisasi untuk interaksi dan seterusnya. Dari mekanisme itu, lahir tiga implikasi besar.

*Pertama, pada tingkat individu: atrofi intuisi.*

“Atrofi intuisi itu adalah kebiasaan kita melakukan reaksi yang mendahului refleksi. Kita lebih cepat bereaksi daripada melakukan refleksi,” katanya.

Akibatnya, tingkat kedalaman intuisi di generasi ini menyusut. Masyarakat menjadi lebih mudah terpancing, lebih cepat menghakimi, dan lebih jarang berhenti sejenak untuk menabayyun sebelum menyebarkan informasi.

*Kedua, pada tingkat masyarakat: ekstremitas sosial.*

“Hal yang sebelumnya kita anggap tidak lumrah menjadi lumrah,” ujar Andi.

Umpatan, kebencian, fitnah, dan seterusnya menjadi hal biasa dalam interaksi sehari-hari. Kebiasaan dalam interaksi itu kemudian menjadi ukuran sosial karena ada proses normalisasi di sana.

Andi mencontohkan pergeseran norma di kalangan anak dan remaja. Perilaku seks bebas dulu di tingkat anak dan remaja relatif rendah karena tidak ada normalisasi seperti itu sebelumnya, tetapi sekarang sangat tinggi.

“Hamil di usia SMP bukan lagi persoalan yang dianggap serius seperti sebelumnya,” katanya.

Itulah yang dimaksud dengan ekstremitas sosial, karena pada akhirnya bisa menjadi ukuran sosial yang baru.

*Ketiga, pada tingkat negara: krisis morfologis.*

“Krisis morfologis itu adalah negara nyaris tidak punya kemampuan untuk menentukan karakter dan bentuk ruang publiknya sendiri,” jelas Andi.

Struktur platform, algoritma, dan data itu didominasi oleh raksasa teknologi global. Dalam mekanisme komodifikasi, mereka sibuk menambang perhatian masyarakat.

“Cara menambang perhatian untuk mendapatkan keuntungan yang lebih cepat adalah dengan mengaduk emosi kita,” ujarnya.

“Kalau saya membencimu kemudian kamu balik membenci saya, di situlah keuntungan kapital mereka bisa bertambah semaksimal mungkin.”

Itu adalah salah satu mekanisme kerja algoritma. Banyak riset yang menjelaskan kecenderungan itu.

Hipotesis sementaranya, kata Andi, deformasi sosial berjalan beriringan dengan keuntungan kapital, tetapi tidak beriringan karena deformasi sosialnya kita yang tanggung, keuntungan kapitalnya ke platform global.

Karena itu, Andi mengajak peserta, khususnya perempuan sebagai penjaga pertama ketahanan digital keluarga, untuk tidak sekadar menjadi pengguna pasif. Perempuan harus mampu mengenali cara kerja algoritma, mengendalikan emosi saat bermedia sosial, dan mengembalikan tabayyun sebagai budaya sebelum bereaksi dan menyebarkan informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *